Sambangi Dewan Pendidikan Kalbar, Tim UIN Walisongo Semarang Mitigasi Konflik Sosial Lewat Cerita Rakyat

Kontributor : DWI NR

Semarang, eksposia.com – Peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar. Kunjungan yang dilakukan kemarin  (Rabu. 29/7/2026) itu menjadi “Forum Rembuk Pakar” yang berfokus pada pengujian dan validasi produk penelitian bertajuk “Rekonstruksi Cerita Rakyat untuk Mitigasi Intoleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI)”.

Seperti yang disampaikan padanrilis tadi (Kamis, 30/7/2026), dalam agenda ilmiah tersebut ,Ketua Dewan Pendidikan Kalimantan Barat, Prof Dr Martono MPd menyambut baik agenda ini. Prof Martono menyampaikan bahwa upaya kolaborasi penelitian, khususnya dalam memitigasi konflik intoleran sangat dibutuhkan. Para akademisi diharapkan mampu menawarkan strategi dan solusi yang bisa langsung dirasakan dan diimplementasikan oleh para regulator dan praktisi pendidikan.

Ketua Tim Peneliti UIN Walisongo, Prof Dr Syamsul Ma’arif MAg, menyampaikan bahwa pelibatan dewan pendidikan di Kalbar yang multietnik, menjadi langkah strategis untuk memastikan materi cerita rakyat tidak hanya menarik, tetapi juga relevan dan aman dari narasi yang memicu bias kultural.

“Cerita rakyat memiliki daya pikat yang kuat bagi anak-anak MI. Namun, beberapa narasi lama kerap kali memuat stereotip yang kurang pas jika diserap tanpa pendampingan. Melalui rekonstruksi ini, kami menyisipkan pesan perdamaian dan penghargaan atas perbedaan. Validasi dari Dewan Pendidikan Kalbar krusial untuk memastikan produk tervalidasi mampu memberi kontribusi solusi atas masalah intoleran,” ujar Prof Syamsul Ma’arif.

Sementara itu, Ketua Komisi Keagamaan Dewan Pendidikan Kalbar, Dr Syamsul Kurniawan, menyambut baik inisiatif riset ini. Ia menilai pendekatan berbasis muatan lokal merupakan opsi strategi yang solutif dalam membentengi siswa dari residu konflik masa lalu.

“Kami mengapresiasi upaya tim peneliti yang memanfaatkan khazanah lokal sebagai instrumen edukasi. Pendekatan Etno-kurikulum memang dibutuhkan agar pendidikan formal justru tidak menjauhi akar permasalahan, khususnya masalah multikultural. Produk ini kami harapkan dapat menjadi strategi dan pengayaan yang substantif di madrasah,” ungkap Dr Syamsul Kurniawan.

Produk penelitian ini juga disupervisi oleh Dr Zulfa Fahmy MPd, ahli sastra sekaligus perwakilan dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Zulfa menyampaikan bahwa cerita rakyat mempunyai karakteristik yang sangat strategis dalam pencegahan intoleransi khususnya pada anak-anak. Muatan yang terkandung dalam cerita rakyat perlu direkonstruksi dan dikontekstualisasi agar maknanya mudah dicerna oleh pembaca usia dini.

Program riset itu terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melalui program MORA Air Fund. Dukungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong inovasi pembelajaran berbasis moderasi beragama di lingkungan pendidikan madrasah.

Dr Citra Rizky Lestari, selaku anggota penelitian ini menyampaikan bahwa hasil masukan dan catatan evaluasi dari proses validasi di Kalbar ini nantinya akan digunakan untuk finalisasi kedua buku, sebelum diuji coba secara lebih luas sebagai bahan ajar pendukung di tingkat MI.**

========

Foto : Ketua Tim Peneliti UIN Walisongo Prof Syamsul Ma’arif (kiri) saat menyerahkan draf buku rekonstruksi cerita rakyat kepada Ketua Komisi Keagamaan Dewan Pendidikan Kalbar Dr Syamsul Kurniawan (kanan) di Pontianak, Rabu (29/7/2026).

Leave a Reply