Gadis malam, berjalan pelan, ke mana tujuan, ke mana langkahmu..Dan seorang pria, melirik cepat, menahan sang dara, , hasrat pun bicara…..Sudut yang ada di hening malam, jadi satu saksi, haramnya transaksi.…” (cuplikam lagu “Gadis Malam” Java Jive)
eksposia. com – Di balik geliat dan kerlap-kerlip lampu kota, kadang tersembunyi sisi-sisi gelap yang bagi kalangan konvensional adalah aib yang harus ditutup lewat publikasi bernarasi posif, syukur tanpa cela. Keberadaan media disetir untuk mengalihkan perhatian agar jangan sampai sisi negatifnya terungkap.
Namun kehidupan selalu menampilkan wajah yang jujur. Publik tak bisa dikekang dalam melihat realitas, karena sisi-sisi gelap itu adalah juga bagian dari detak kehidupan masyarakat itu sendiri.
Dan salah satu sisi gelap yang menjadi fenomena sosial klasik adalah kehadiran penjaja cinta semalam, yang kini bertransformasi dalam modus ‘marketing’nya. Tidak lagi mengiklankan diri dengan kedok pijat panggilan di surat kabar, ataupun lewat ‘broker’ alias calo.
Kehadiran aplikasi media sosial menjadi salah satu platform marketing yang ampuh, efisien dan tepat sasaran. Nono (nama samaran), salah seorang pekerja tambang di Kalimantan Tengah, menceritakan bahwa ia biasa memakai aplikasi untuk mencari teman kencan, usai rapat perusahaan di salah satu Kota B, Kalimantan Selatan.
“Tarifnya bervariasi lah. Dari short time yang Rp 300 ribu, sampai yang full time dan full service Rp 1 juta an. (Cewek-ceweknya) masih muda dan modis, Mas Bro. Penampilan trendy lah, ” paparnya ketika bertemu di Kota P, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu.
Yang mengejutkan, di sebuah kota kabupaten yang notabene kecil pun, fenomena ini kini muncul tanpa bisa dibendung. Contohnya seperti yang disaksikan eksposia. com sendiri, di kota kecil P, Kalimantan Tengah, baru-baru ini. Para gadis muda dengan busana yang fashionable, hilir mudik di jalan pada jam larut malam, bahkan hilir mudik ke hotel-hotel.
“Tarifnya antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribu, Bang. Cuma tadi saya tawar Rp 100 ribu, maksudnya buat short time dan singkat aja, mau nggak? Eh ditolak, Bang, ” cerita Diwan (juga nama samaran), salah seorang rekan, yang juga kebetulan berada di kota kecil tersebut, disambut tawa ngakak kawan-kawan lainnya.
Jikapun ini adalah absurditas, tentunya kita tak bisa hanya menuding apalagi menjustifikasi semata. Karena lapisan kompleksitasnya serumit labirin, yang tak mungkin bisa diurai serampangan. Dan eksistensi para gadis malam itu, akan terus menjadi kisah yang menghiasi detak waktu kehidupan, sekaligus pewarna sebuah kota. Karena warna, tentu tak akan lengkap dan sempurna tanpa ada hitamnya.. WAN
Ilustrasi foto : pexels.com
Leave a Reply