Pementasan “Seimbang Dalam Arus” : Menangkap Kegelisahan Dalam Tarian

Tamiang Layang, eksposia. com, – Pementasan tari kontemporer dalam tema “Seimbang Dalam Arus” karya Tirta Nopa Tarani tadi malam (Sabtu, 25/7/2026) mungkin menjadi dua perspektif berbeda.

Pertama adalah sebuah ekspresi kreatifitas yang berani dan jujur dalam menampilkan idenya, kedua adalah kerumitan yang tidak biasa dan mungkin bisa dikonsumsi oleh keawaman. Maklum, karya seperti ini bukan tontonan yang sekadar lahapan mata, dan langsung bisa dinikmati (tanpa harus melalui proses berfikir) sebagaimana halnya pertunjukan biasa.

Tapi keberanian dan kesuksesan menggulirkan ide menjadi karya pentas, tentu sebuah perjuangan panjang yang patut diapresiasi. Sponsor (besar) lokal menjadi tantangan bagaimana Tirta bisa menggamit mereka mempersembahkan pertunjukan yang tak biasa ini.

Menyorot sisi lain, para panitia kebanyakan adalah volunteer lokal, anak-anak muda yang masih belum terkondisikan rutin dalam event seperti ini di Kecamatan Dusun Tengah, bahkan Kabupaten Barito Timur. Ini jadi semacam trigger yang menguntungkan sekaligus memudahkan mengorganisir, karena biasanya semangat kebersamaan jadi hal yang lebih penting daripada sekadar “cuan” recehan.

Faktor pendukung besarnya adalah adanya bantuan dari Kementerian Kebudayaan dan ‘lubang-lubang’ yang justru dari pusat sana. Bukan dari daerah maupun provinsi. Ini jadi catatan tersendiri bagaimana karya serupa atau format lainnya, baik karyanTirta atau kreator seni lainnya, bisa hadir di Kabupaten Barito Timur (Bartim),Kalimantan Tengah, tanpa harus berharap pada pemerintah setempat.

“Saya hanya ingin merepresentasikan kegelisahan-kegelisahan dari berbagai pertanyaan, yang selama ini mengusik. Itu kemudian saya tuangkan dalam beberapa bagian dalam pertunjukan ini yang ditampilkan secara filosofis. Makanya ada api, ada air yang surut, ada bambu dan lain-lain. Semua menjelaskan tanpa harus melalui kata-kata, ” papar Tirta.

Tentu saja, ini adalah titik permulaan dari perjuangan yang bakal panjang. Apalagi di skup lokal di mana kadangkala, -atau seringkali- kemurnian kreasi seni harus bertempur melawan bargaining kepentingan politik (bahkan kadang harus berfusi untuk bisa survive).

Tirta, juga Tirta-Tirta lainnya yang memiliki idealisme sama, tentu hatus mencatat hal ini dan mencari jalan keluar bagaimana kesenian bisa tampil sebagaimana esensinya tanpa harus ‘ternodai’ berbagai elemen yang tak sinkron. Agar pertunjukan seni apapun, tak lagi jadi kegelisahan semata. Namun jadi sebuah karya yang bisa dinikmati secara nyata. *

Catatan :
Iwan Prast

Leave a Reply