Puruk Cahu, eksposia.com – Berjalan-jalan malam hari di Putik Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, yang terkenal dengan hasil emasnya, memang menjadi kesan tersendiri. Betapa tidak, kota kecil yang sekitar 20 tahun lalu ini masih sepi dan dibangun, kini penuh dengan perubahan menyaingi kabupaten-kabupatem pemekaran lainnya di Kalimantan Tengah.
Bukan sekadar gemerlap lampu di sepanjang jalan kota atau ramainya perniagaan, tapi juga ada bias akulturasi budaya yang terasa tanpa melupakan akar asalnya.
Kesan ini muncul saat eksposia.com melihat sekilas pementasan budaya Jawa (Timur) yaitu Reog Ponorogo yang digelar di taman depan Rumah Jabatan Bupati Mura. Malam hari yang ramai dengan pengunjung, karena Satun lokasi dengan pasar malam, menjadi tambah meriah.
Tak hanya dari komunitas Jawa yang merindukan kampung halaman asalnya lewat pertunjukan ini, namun juga berbaurnya etnis-etnis lain dalam kebersamaan di lokasi dengan akurnya.
“Tak hanya budaya Jawa yang sering dipentaskan di sini, Pak. Tapi juga dari komunitas lain, misalnya Dayak Siang, Dayak Bakumpai, ataupun Banjar. Bergilir tampil dan saling mendukung, ” ujar Warno, salah seorang pedagang kaki lima yang menggelar lapak di dekat lokasi.
Puruk Cahu memang menjadi sebuah simbol geliat sebuah kota kabupaten yang terus bergerak membangun. Bukan hanya ramai di berita media ataupun media sosial. Bukan jalan di tenpat. Nafas dinamikanya terasa. WAN
Leave a Reply