Jakarta, eksposia.com – Kecepatan transformasi digital di kawasan ASEAN tidak dapat diukur semata dari adopsi teknologi canggih atau besaran ekonomi digital, melainkan dari seberapa luas manfaat teknologi tersebut dirasakan oleh masyarakat.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, mengatakan hal tersebut pada sesi diskusi “Is ASEAN Moving Fast Enough?” pada World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss. Menurutnya, pertanyaan utama bukan apakah ASEAN bergerak cepat, namun cepat untuk siapa dan ke arah mana.
Meutya menyorot pula, narasi kecepatan digital kerap terjebak pada angka adopsi Artificial Intelligence (AI) dan nilai ekonomi digital. Padahal, tantangan terbesar bagi Indonesia dan ASEAN adalah memastikan teknologi tersebut dapat diakses secara merata oleh ratusan juta penduduk di kawasan.
“Untuk Indonesia, dan sebagian besar negara anggota ASEAN, definisi kecepatan adalah seberapa cepat kami bisa menyebarluaskan teknologi, terutama kepada 700 juta penduduk di negeri kami. Di Indonesia saja ada 280 juta jiwa yang tersebar di 17.000 pulau. Tantangan terbesar adalah memastikan teknologi tersedia untuk semua,” ujar Meutya, tadi (Kamis,, 22/1/2026) seperti yang dkutip dari laman Kominfo,
Inklusivitas, bagi Meutya, adalah bagian tak terpisahkan dari kesiapan digital. Kecepatan infrastruktur tidak akan punya arti jika tidak dibarengi dengan kecepatan literasi digital, khususnya bagi generasi muda. “Bonus demografi di kawasan Asia hanya akan menjadi keuntungan nyata jika dibarengi dengan keterampilan Jadi, kita harus melihat seberapa cepat kita bisa mengedukasi dan meliterasi rakyat kita,” tandasnya.
Menkomdigi RI tak lupa memaparkan, bahwa ASEAN saat ini sedang mematangkan Digital Economic Framework Agreement (DEFA) untuk mempercepat perkembangan ekonomi digital di kawasan. Kerangka kerjanya dirancang bukan sekadar sebagai perjanjian dagang, namun sebagai “sistem operasi” yang memperkuat konektivitas antarnegara.
Keberhasilan sistem pembayaran dgital QRIS,, adalah salah satu bukti nyata interoperabilitas ini. QRIS sudah dapat digunakan lintas negara, seperti di Thailand dan Malaysia. Posisi netral ASEAN sendiri, juga dinilai sebagai kekuatan strategis yang membuka akses luas terhadap teknologi dan investasi dari seluruh dunia. TYO