Catatan Iwan Prast

eksposia.com – Semula saya berharap film ini berkait antara sosok kuyang dan (kembali mengekspos) Saranjana, setelah ada film tentang kota gaib itu sendiri (Saranjana Kota Gaib) beberapa tahun lalu, yang dibintangi pula penulis asal Banjarmasin Gusti Gina. Sayangnya tidak. Padahal sutradaranya Johansyah Jumberan juga men-direct film itu.

Saranjana hanya disebut dalam dialog antara seorang pria warga Kotabaru, yang mendatangi rumah Utuh Ampong (Barry Prima) untuk meminta tolong sang ‘orang pintar’ agar meminjamkan Mandau Sakti-nya, guna membuka gerbang kota Saranjana lantaran ada keluarganya yang dibawa orang kota tersebut. Dan ini yang menandai bahwa Kuyank-Saranjana adalah prekuel ataupu benang merah dari film Saranjana Kota Gaib.

Tanpa membicarakan sinopsisnya, karena sudah banyak media online lain yang menayangkan, di sini saya ingin mencoba menggelitik rasa keingintahuan saya, apakah ada peran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan atau Pemerintah Kabupaten Hulu Singai Selatan (HSS) dalam film ini? Sebab dengan banyaknya scene titik-titik alias spot kepariwisataan lokal, seperti Tepian Siring Km O dan Sungai Martapura di Banjarmasin, ataupun perkampungan rawa khas Kalsel yang ada di Kandangan, Kab HSS, tentu akan menjadi sarana promosi wisata yang efektif.

Rasanya, adalah sebuah ‘dosa besar’ jika pemerintah daerah tidak mengambil bagian dalam produksi film ini. Tapi, seandainya tidak, kita juga bisa memahami jika melihat penggunaan anggaran yang tidak terencana, (meski baik tujuannya), akan memenuhi sel penjara KPK.

Terlepas dari beberapa kekurangan, seperti penyuguhan Bahasa Banjar yang masih belum pure, apalagi khas HSS, atau eksploitasi motivasi Husnah (Jolene Marie), si wanita penganut kuyang yang tinggal di lanting (rumah apung), menjadi hal yang termaafkan dengan banyak adegan segar. Dialog-dialog yang ada, terasa natural keseharian. Para pemain dari Jakarta seperti Rio Dewanto, Ochi Rosdiana, Barry Prima, Dayu Wijanto, Jolene Marie dan lain-lain, mampu membawakan peran mereka sebagai orang kampung dengan baik.

Sebagai pemeran utama, Intan Putri Kasela yang memainkan tokoh Rusmiati alias Irus, pada awal film sempat saya ragukan. Sampai kemudian saya paham kenapa di amendapatkan role utama. Ya karena dia orang Kalsel dengan tipe fisik yang benar-benar mencerminkan wanita desa setempat. Profil yang tepat. Meski peran dua sampai tiga scene Ochi Rosdiana yang berperan sebagai Fauziah, cewek yang dijodohkan orangtua Badri (Rio Dewanto) sebenarnya nyaris ‘mengancam’ porsinya.

Kehadiran aktor senior Barry Prima meski hanya sebagai pemeran pembantu malah jadi cukup dominan dan kuat. Aktingnya yang kini semakin terasah dalam film drama, bertambah dengan perannya menjadi Utuh Ampong, ‘orang pintar’ asal Kandangan, Kab HSS, Kalsel yang harus berbahasa Banjar. Dan pada adegan di mana dirinya mengejar kuyang dengan menggunakan kelotok, terlebih saat menghunus mandau, terasa benar auranya sebagai bintang laga masih tersisa dengan kuat. Malah jadi seperti Jaka Sembung versi tua van Kandangan… **

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *